Deskripsi
Penulis: Ree
Tebal: 81 halaman
Lima tahun lalu, atlet nasional Dewo Haryanto berdiri di atap rumah sakit, siap melepaskan diri dari dunia yang merampas medali, karier, dan tunangannya dalam satu malam. Sepasang tangan kecil seorang remaja SMA menariknya kembali dari tepi pagar. Kini, sebagai pelatih renang kampus, ia menyangka hidupnya hanya soal peluit dan rutinitas yang menenangkan — sampai Reo berdiri di barisan belakang atletnya: bertubuh pendek yang berisi lembut, kulit halus berkilau di bawah lampu kolam, dan pantat padat yang naik-turun menggoda setiap kali ia membalik di air. Setiap koreksi teknik berubah jadi gesekan basah yang sengaja, setiap senyum polos membisikkan janji yang lebih dalam, dan Dewo tahu ini salah — namun untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia merasa hidup lagi.
Reo tidak datang ke kolam itu untuk berenang. Ia datang untuk menuntut. Sebab ia paham betul siapa Dewo, dan kenangan lima tahun lalu di atap rumah sakit bukanlah sebuah kebetulan — sejak malam ia menyelamatkan nyawa pria itu, ia telah memupuk obsesinya dalam diam, membesarkannya dengan bayangan otot dada, medali emas, dan tubuh kekar yang ia anggap miliknya sejak saat itu. Maka di setiap “maaf, Coach, airnya licin”, di setiap bilik mandi yang sengaja dibiarkan terbuka, di setiap malam ketika listrik padam dan hujan turun seperti tirai, batas antara pelatih dan murid, antara penyembuh dan tersembuh, runtuh tanpa jalan kembali. Dan Dewo menyadari, terlalu terlambat, bahwa ia tidak sedang didekati — ia sedang dijerat oleh pemuda yang sudah lama menyiapkan jaringnya.
Reo tahu cara tubuhnya bekerja, tahu cara membuat pria dewasa kehilangan akal sehatnya hanya dengan kain basah yang menempel ketat. Ia tidak butuh kata-kata — cukup satu tekanan pinggul di kolam, satu desahan lirih yang sengaja dibiarkan terdengar, satu pintu yang terbuka lebar di koridor gelap. Pertanyaannya bukan apakah Dewo akan menyerah, melainkan rasa mana yang akan memenanginya setelah ini: rasa bersalah karena kelewat batas, atau rasa lapar karena tidak sanggup berhenti? Sebab Reo tidak pernah belajar diam — dan kolam itu masih jauh terlalu dangkal untuk menenggelamkan semua yang ia sembunyikan di balik senyumnya.










Riza (pemilik terverifikasi) –
Seru si ngebayangin lagi kalo di tempat gym hahaha